Haloo! Ku sudah jadi mahasiswa
tingkat tiga, lhoo!!!
Ngga percaya karena
umur udah kepala 2 dan udah jadi anak semester 5 yang semester depan udah mulai
mikirin penelitian.
Cemas karena ternyata
gue stagnan aja sampe tahun ketiga ini. Ngga ngerti harus pasrah atau gimana,
tapi kayanya kalo gue mandek, gue ga bakal nemuin pintu selanjutnya.
Cemas karena udah
sampe ke tahap ini dan masih banyak boxlist yang belum dicentang. Deadline!
Bahagia, secepatnya
harus sudah pake toga lagi sejak dua tahun lalu.
Makin kesini, gue makin paham-ga paham akan kehidupan.
Paham bahwa gue harus
terus berusaha, harus terus memberi, harus terus berdoa, harus terus bersyukur,
harus terus ramah dan ringan tangan. Paham bahwa gue ga akan kemana-mana kalo
gue cuma ngomong doang, main-main, atau ngeluh. Paham kalo di luar sana, temen2
SMA udah mulai lebih bersinar dari gue dan gue harus lebih kuat lagi biar ga
ketutup sama sinar mereka.
Ga paham bahwa kenapa
makin gue kesini makin serius terus bawaannya, susah diajak becanda di
saat-saat genting. Ga paham kenapa ketika pemimpin-pemimpin kita udah banyak
berusaha ngajak dan ngedorong kita buat lebih maju, lebih smart, lebih jeli dan lebih
rajin justru ada orang-orang yang underestimate dan termakan pemikiran bahwa: that's Indonesian, that habit has
already turned into culture, dan blablabla.
Makin kesini, makin kuat feeling dan naluri gue.
Karena makin hari,
gue makin kerasa bahwa orang-orang itu, yang ada di lingkungan gue maupun yang
hanya memantau dari sosial media, atau bahkan orang yang barusan ada di sebelah
gue, makin ngomongin gue, either
good or bad things about me. Hahaha. Yang ini yang bikin ketawa dan bikin
lega. Ketawa, sebelum tidur dan kapanpun lagi inget hal itu, ketawa itu obat.
Ketawa karena mereka jadi warna di hidup gue. Dimana gue lagi sibuk perbaikan
IPK, dimana gue lagi sibuk cari kesibukan yang sesuai sama passion, mereka sibuk ngomongin
gue. <-- Ini tendensinya adalah untuk hal yang buruk ya. Mereka sibuk
menggali apa sih yang terjadi di hidup gue, atau mulai sibuk mengarang-ngarang
berita tentang gue. Hihihi. Lega, karena lewat omongan baik-buruk itu, gue makin
dekat dengan Tuhan. Gue makin sering bilang alhamdulillah dan astaghfirullah, bersyukur
karena omongan itu menjadi pengingat bahwa ada yang perhatian atau menjadi
penunjuk bahwa keberadaan gue adalah sesuatu hal dalam hidup dia meskipun
kecil, juga mohon ampun sama Tuhan atas segala dosa dan sifat-sifat tamak gue.
Makin kesini, gue makin positive thinking.
Makin kesini, gue
makin sayang sama orang-orang dekat.
Tapi makin kesini
juga, ketakutan dan kecemasan itu makin kuat terbangun.
No comments:
Post a Comment