Halo, yang disana. Apa kabar?
Selamat tanggal 24.
Terima kasih sudah begitu banyak mendengar dan bersabar.
Tulisan kali ini aku
buat khusus buat kamu, yang semalam sedikit resah menanyakan kemana perginya
halaman ini. Ini tak 'kan kemana.
Ini akan sedikit
panjang, tapi akan kubuat singkat.
Aku memang tak pernah
mengingat seutuhnya kapan kita pertama bertemu, bertegur sapa, berjabat tangan,
bahkan aku tak ingat bagaimana percakapan-percakapan itu. Tetapi aku ingat,
bagaimana kamu mengubah hal-hal yang tidak kuingat itu menjadi bermakna.
Aku tak pernah
berandai-andai untuk dekat, atau sekedar curhat. Tetapi aku ingat bagaimana aku
bisa memandangimu lekat-lekat.
Bagiku, tak perlu
usaha keras untuk tau hal-hal yang sedikit terlewat dalam ingatan. Terlampau
banyak sudut-sudut kenangan dari kota ke kota.
Dua tahun, lebih
kurang, bagiku cukup untuk berkenalan denganmu. Cukup untuk memahami bahwa kau
akan memilih cokelat daripada keju, tapi tak akan menolak ketika aku memilihkan
keduanya. Cukup untuk memahami bahwa kamu yang tak bisa diam, akan begitu
tampan begitu tenggelam dalam lembaran buku. Bahkan marah saja kau tampan. Aku
sampai heran.
Dua tahun, lebih
kurang, bagiku cukup untuk mengerti kalau kau selalu ingin menyempatkan bermain
futsal selepas rapat yang berakhir jam sembilan malam.
Dua tahun, cukup
menyadarkanku bahwa..
Kamu akan selalu
mendengar,
memperhatikan,
bersabar,
menguatkan,
dan selalu ada.
Dua tahun bagiku
hanyalah permulaan dari sebuah perjalanan yang lebih panjang dan dalam. Tetapi
dua tahun juga menjadi akhir dari perkenalan. Karena setelah dua tahun,
semuanya akan berjalan sebagaimana mestinya. Hal-hal baru itu akan menjadi sesuatu
yang biasa. Bisa jadi menyebalkan, bisa jadi ditunggu-tunggu. Dan bagiku, lepas
dua tahun adalah waktu yang tepat dimana diriku bisa melihatmu seutuhnya, yang
sebenar-benarnya kamu. Bukan kamu versi masa-masa pendekatan dulu. Bukan kamu
yang terus berusaha menjadi manis. Lepas dua tahun adalah waktu dimana aku
mengharapkan bahwa masa perkenalan telah mempersiapkan aku dan kamu lebih baik
dan lebih kuat.
Dua tahun juga
teramat dalam bagiku untuk terbiasa dengan dua puluh empat.
Pun mengapa aku
memilih untuk menulis ini di tanggal dua puluh empat.
Mungkin karena ini
tanggal dua puluh empat, aku jadi ingin menulis tentang kamu.
Dan sedikit tentang
kita dahulu.
Dua puluh empat.
Dua dan empat.
Biar kita saja yang
tahu, atau biar saja begitu.
Dua puluh empat.
Dua puluh empat.
Dua puluh empat dan
warna yang satu.
Biar kamu dan aku
yang tahu.
Albia Ligar Ramadhan,
terima kasih.
Terima kasih untuk
menghadirkan kebahagiaan sejak obrolan makan pagi itu.
Terima kasih untuk
setiap tangkai mawar, potongan cokelat, dan pelukan hangat.
Terima kasih untuk
diskusi di setiap kilometer dan empat musim yang aku dan kamu lalui.
Terima kasih untuk
perjalanan jauhnya ke rumahku.
Terima kasih telah
sempat memilihku.
Terima kasih telah
sempat menjadi rumahku..