24 Oct 2015

Tentang Kamu.

Halo, yang disana. Apa kabar?
Selamat tanggal 24. Terima kasih sudah begitu banyak mendengar dan bersabar.
Tulisan kali ini aku buat khusus buat kamu, yang semalam sedikit resah menanyakan kemana perginya halaman ini. Ini tak 'kan kemana.

Ini akan sedikit panjang, tapi akan kubuat singkat.

Aku memang tak pernah mengingat seutuhnya kapan kita pertama bertemu, bertegur sapa, berjabat tangan, bahkan aku tak ingat bagaimana percakapan-percakapan itu. Tetapi aku ingat, bagaimana kamu mengubah hal-hal yang tidak kuingat itu menjadi bermakna.
Aku tak pernah berandai-andai untuk dekat, atau sekedar curhat. Tetapi aku ingat bagaimana aku bisa memandangimu lekat-lekat.
Bagiku, tak perlu usaha keras untuk tau hal-hal yang sedikit terlewat dalam ingatan. Terlampau banyak sudut-sudut kenangan dari kota ke kota.
Dua tahun, lebih kurang, bagiku cukup untuk berkenalan denganmu. Cukup untuk memahami bahwa kau akan memilih cokelat daripada keju, tapi tak akan menolak ketika aku memilihkan keduanya. Cukup untuk memahami bahwa kamu yang tak bisa diam, akan begitu tampan begitu tenggelam dalam lembaran buku. Bahkan marah saja kau tampan. Aku sampai heran.
Dua tahun, lebih kurang, bagiku cukup untuk mengerti kalau kau selalu ingin menyempatkan bermain futsal selepas rapat yang berakhir jam sembilan malam.

Dua tahun, cukup menyadarkanku bahwa..
Kamu akan selalu mendengar,
memperhatikan,
bersabar,
menguatkan,
dan selalu ada.

Dua tahun bagiku hanyalah permulaan dari sebuah perjalanan yang lebih panjang dan dalam. Tetapi dua tahun juga menjadi akhir dari perkenalan. Karena setelah dua tahun, semuanya akan berjalan sebagaimana mestinya. Hal-hal baru itu akan menjadi sesuatu yang biasa. Bisa jadi menyebalkan, bisa jadi ditunggu-tunggu. Dan bagiku, lepas dua tahun adalah waktu yang tepat dimana diriku bisa melihatmu seutuhnya, yang sebenar-benarnya kamu. Bukan kamu versi masa-masa pendekatan dulu. Bukan kamu yang terus berusaha menjadi manis. Lepas dua tahun adalah waktu dimana aku mengharapkan bahwa masa perkenalan telah mempersiapkan aku dan kamu lebih baik dan lebih kuat.

Dua tahun juga teramat dalam bagiku untuk terbiasa dengan dua puluh empat.
Pun mengapa aku memilih untuk menulis ini di tanggal dua puluh empat.
Mungkin karena ini tanggal dua puluh empat, aku jadi ingin menulis tentang kamu.
Dan sedikit tentang kita dahulu.
Dua puluh empat.
Dua dan empat.
Biar kita saja yang tahu, atau biar saja begitu.
Dua puluh empat.
Dua puluh empat.
Dua puluh empat dan warna yang satu.
Biar kamu dan aku yang tahu.


Albia Ligar Ramadhan, terima kasih.
Terima kasih untuk menghadirkan kebahagiaan sejak obrolan makan pagi itu.
Terima kasih untuk setiap tangkai mawar, potongan cokelat, dan pelukan hangat.
Terima kasih untuk diskusi di setiap kilometer dan empat musim yang aku dan kamu lalui.
Terima kasih untuk perjalanan jauhnya ke rumahku.
Terima kasih telah sempat memilihku.
Terima kasih telah sempat menjadi rumahku..