Life is not as simply as it seen
Life doesn’t give you a single
choice
Life containing a multilayer of
complexity
Life is not only about you, but
us.
Banyak makna kehidupan yang
diajarkan mama. Beliau begitu menghargai apa itu keikhlasan dan begitu
mendukung perbuatan baik. Mama menunjukkan beribu tanggapan dan ekspresi di
setiap pertanyaan maupun ceritaku. Kadang suka, kadang cemberut, kadang acuh, dan
yang paling ku suka adalah ketika beliau tertawa.
Banyak hal yang aku ingat dari
mama, apalagi nasihatnya tentang kehidupan. Namun, tak bisa kuingat otomatis,
melainkan dengan ajaib muncul ketika aku bertemu dengan orang-orang yang
mengharuskanku bereaksi. Seperti sekarang, dimana aku harus pintar-pintar
mengatur ritme dalam bergerak dan menanggapi.
Hidup dengan puluhan karakter
berbeda tak pernah semudah yang aku bayangkan. Asrama. Apalagi awalnya aku
hanya tinggal bertiga. Aku,papa,mama. Sudah. Tapi pemikiranku terus tumbuh,
positif maupun negatifnya. Sebagaimana hidup, mengandalkan mama harusnya sudah
bisa aku tinggalkan, karena aku yang terus tumbuh dan dewasa. Aku belum
sepenuhnya dewasa. Tapi menurutku, untuk menghadapi persoalan yang satu ini, sepertinya
sudah lulus uji coba.
Menyatukan berbagai keinginan
adalah resiko dari seorang pemimpin. Bagaimanapun, jalan tengah selalu dipilih
sebagai jalur aman. Perencanaan, diskusi, pengumpulan ide, dan proses produksi
adalah rentetan kegiatan yang harusnya sudah sejari kelingking. Ketika barang
produksi sudah jadi dan siap diedarkan, maka persiapan yang harus benar-benar
mendasar adalah, mental. Mengapa? Karena barang itu bisa jadi memenuhi
keinginan, bisa jadi malah mengecewakan. Senyum akan berkembang dengan mudah
ketika setelah konsumen berkata, “Wah,bagus sekali!” , “Hmm, lezat! Apa ya
resepnya?” Berbagai macam respon positif yang membungakan hati. Namun, jangan
takut juga untuk mendengar cibiran macam, “Bagus sih, tapi terlalu biasa.”
“Enak ya, tapi tak seenak di toko X.”, misalnya. Itu hak konsumen, tidak ada
yang salah kalau membicarakan selera. Hanya saja, selera tidak pernah bisa
disamaratakan.
Bercermin dari kisah tersebut,
akhirnya aku belajar untuk mendengarkan respon negatif dari orang lain. Karena,
terkadang sakit itu enak, kok. Tidak percaya? Pertanyaannya simpel, bagaimana
bisa seseorang mendeskripsikan bahagia apabila tidak ada pembandingnya, yakni
rasa sakit? Masyarakat negeri ini hobinya rata-rata sama, suka menilai.
Sebenarnya bagus, kalau positif. Positif disini bukan berarti tanggapannya
selalu bagus. Tapi, bisa mempertanggungjawabkan perkataannya. Kalau memang
fakta mutu barang itu jelek, harus dinilai jelek, dong. Tapi jangan lupa, saran
perbaikannya. Orang kan juga butuh diingatkan.
.jpg)
No comments:
Post a Comment