16 May 2012

No Offense





Life is not as simply as it seen
Life doesn’t give you a single choice
Life containing a multilayer of complexity
Life is not only about you, but us.






Banyak makna kehidupan yang diajarkan mama. Beliau begitu menghargai apa itu keikhlasan dan begitu mendukung perbuatan baik. Mama menunjukkan beribu tanggapan dan ekspresi di setiap pertanyaan maupun ceritaku. Kadang suka, kadang cemberut, kadang acuh, dan yang paling ku suka adalah ketika beliau tertawa.

Banyak hal yang aku ingat dari mama, apalagi nasihatnya tentang kehidupan. Namun, tak bisa kuingat otomatis, melainkan dengan ajaib muncul ketika aku bertemu dengan orang-orang yang mengharuskanku bereaksi. Seperti sekarang, dimana aku harus pintar-pintar mengatur ritme dalam bergerak dan menanggapi.
Hidup dengan puluhan karakter berbeda tak pernah semudah yang aku bayangkan. Asrama. Apalagi awalnya aku hanya tinggal bertiga. Aku,papa,mama. Sudah. Tapi pemikiranku terus tumbuh, positif maupun negatifnya. Sebagaimana hidup, mengandalkan mama harusnya sudah bisa aku tinggalkan, karena aku yang terus tumbuh dan dewasa. Aku belum sepenuhnya dewasa. Tapi menurutku, untuk menghadapi persoalan yang satu ini, sepertinya sudah lulus uji coba.

Menyatukan berbagai keinginan adalah resiko dari seorang pemimpin. Bagaimanapun, jalan tengah selalu dipilih sebagai jalur aman. Perencanaan, diskusi, pengumpulan ide, dan proses produksi adalah rentetan kegiatan yang harusnya sudah sejari kelingking. Ketika barang produksi sudah jadi dan siap diedarkan, maka persiapan yang harus benar-benar mendasar adalah, mental. Mengapa? Karena barang itu bisa jadi memenuhi keinginan, bisa jadi malah mengecewakan. Senyum akan berkembang dengan mudah ketika setelah konsumen berkata, “Wah,bagus sekali!” , “Hmm, lezat! Apa ya resepnya?” Berbagai macam respon positif yang membungakan hati. Namun, jangan takut juga untuk mendengar cibiran macam, “Bagus sih, tapi terlalu biasa.” “Enak ya, tapi tak seenak di toko X.”, misalnya. Itu hak konsumen, tidak ada yang salah kalau membicarakan selera. Hanya saja, selera tidak pernah bisa disamaratakan.

Bercermin dari kisah tersebut, akhirnya aku belajar untuk mendengarkan respon negatif dari orang lain. Karena, terkadang sakit itu enak, kok. Tidak percaya? Pertanyaannya simpel, bagaimana bisa seseorang mendeskripsikan bahagia apabila tidak ada pembandingnya, yakni rasa sakit? Masyarakat negeri ini hobinya rata-rata sama, suka menilai. Sebenarnya bagus, kalau positif. Positif disini bukan berarti tanggapannya selalu bagus. Tapi, bisa mempertanggungjawabkan perkataannya. Kalau memang fakta mutu barang itu jelek, harus dinilai jelek, dong. Tapi jangan lupa, saran perbaikannya. Orang kan juga butuh diingatkan.


No comments:

Post a Comment