17 May 2012

Life and How to

Aku tumbuh seiring dengan waktu. Aku belajar ditemani angin yang datang dan pergi. Pagiku dikicaukan burung-burung pencari arbei hutan. Hingga langit berubah jingga aku baru terlelap. Itulah hidupku. Seperti damai dan tenteram, seperti nyaman,aman, jauh dari gangguan.

Menurutku,aku tak pernah merasa bosan. Aku bahagia hidup beristrikan alam. Dia yang setia menyuguhiku berbagai hidangan. Dia yang mendengar keluh kesah serta harapan-harapan indah. Aku senang. Titik.

Aku tumbuh seiring dengan waktu. Aku belajar ditemani angin yang datang dan pergi. Pagiku dikicaukan burung pencari arbei hutan. Hingga langit berubah jingga aku baru terlelap. Itulah hidupku. Seperti damai dan tenteram, seperti nyaman, aman, jauh dari gangguan.

Bagiku, hidup memang harus dibikin senang. Hidup bukan untuk diratapi, karena hidup adalah anugerah. Tak ada yang salah dengan hidup karena hidup berjalan dengan semestinya. Sayangnya, hidup tak punya pilihan. Kepada siapa ia ditakdirkan, kepada siapa ia dituliskan.

Hidup seharusnya dibikin senang. Karena hidup hanya urusan diri sendiri. Mau bilang persetan dengan orang lain? Mau acuh dengan hidup orang lain? Yang penting kita hidup.

Namun kembali pada hakikat hidup itu sendiri. Dia datang tidak sendirian. Dia datang dengan lembaran yang sudah tertulis sebagian. Berbahagialah yang sudah diberi kado hidup. Itu hadiah terindah yang selalu diimpikan hal macam batu. Tapi batu juga sebenarnya hidup. Lantas, apa yang membedakan antara diri kita dengannya?

Kehidupan. :)


No comments:

Post a Comment